Total Tayangan Halaman

Jumat, 11 Februari 2011

PENINGGALAN BANGSA PORTUGIS DAN BANGSA SPANYOL DI NUSANTARA

PENINGGALAN BANGSA PORTUGIS DAN BANGSA SPANYOL DI NUSANTARA

Rendy Wahyu Satriyo Putro

Berabad-abad lamanya kerajaan-kerajaan kecil yang terpencar letaknya di pulau-pulau Indonesia secara ekonomis, kultural, dan juga sewaktu-waktu secara politis telah bergabung atau digabungkan dalam satuan-satuan yang lebih besar. Adanya komunikasi dan lalu lintas antarkepulauan Indonesia ini sudah barang tentu dimungkinkan oleh penduduknya yang telah mengembangkan suatu jaringan hubungan maritim yang lebih baik, didukung oleh kemajuan teknologi kapal, keahlian navigasi, dan suatu enterprising spirit[1] yang besar. Kegiatan laut yang dominan dalam kehidupan bangsa kita di masa lampau tercermin dalam sebutan “zaman bahari” yang sinonim dengan zaman purbakala. Sifat internasional dari pelayaran dan perdagangan telah nampak pula pada zaman kerajaan-kerajaan Indonesia Hindu (A.B. Lapian, 2008: 1).

Hubungan dagang Nusantara dengan berbagai bangsa, bahkan pelaut-pelaut Nusantara yang konon pernah berlayar sampai Madagaskar Afrika merupakan bukti bahwa bangsa kita sudah memiliki peradaban dan teknologi perkapalan dan perlayaran yang sudah maju. Perdagangan yang pada waktu itu Nusantara terkenal sebagai penghasil rempah-rempah, bahkan sampai terdengar di Eropa. Di Eropa yang pada waktu itu belum mengenal bangsa timur dan hanya mendapatkan rempah-rempah dari perdagangan di Konstatinopel, yang pada tahun 1453 Konstatinopel ditakhlukkan oleh orang-orang Turki Ustmani menyebabkan penghentian perdagangan rempah-rempah di Eropa.

Akan tetapi, orang-orang Eropa, terutama orang-orang Portugis, mencapai kemajuan-kemajuan di bidang teknologi tertentu yang kemudian melibatkan bangsa Portugis dalam salah satu petualangan mengarungi samudra yang paling berani di sepanjang zaman yang memungkinkan mereka berekspansi ke seberang lautan. Rempah-rempah merupakan soal kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin di Eropa, tidak ada satu cara pun yang dapat dilakukan agar semua hewan ternak tetap hidup, karenanya banyak hewan ternak disembelih dan dagingnya kemudian harus diawetkan. Untuk itu diperlukan sekali adanya garam dan rempah-rempah, serta di antara rempah-rempah yang diimpor, cengkih dari Indonesia Timur adalah yang paling berharga. Indonesia juga menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala, oleh karenanya kawasan itulah yang menjadi tujuan utama Portugis, walaupun sampai saat itu mereka masih belum mempunyai gambaran sedikit pun tentang letak “Kepulauan Rempah” Indonesia itu maupun tentang cara mencapainya (M.C. Ricklefs, 2008: 40-41).

Kedatangan bangsa Portugis membawa dampak atau pengaruh lain bagi Indonesia dalam bidang kebudayaan yaitu :

a. Berkembangnya agama Kristen/Katholik di Maluku yang disebarkan oleh Fransiscus Xaverius.

b. Berkembangnya musik Keroncong berasal dari Portugis.

c. Peninggalan bangunan yang berupa benteng-benteng Portugis.

d. Nama orang Indonesia menggunakan nama Portugis.

e. Benda-benda peninggalan Portugis berupa Meriam[2] yang ditempatkan di Museum (Elinda, 2007).

Gambar 1: Kapal Eksplorasi Spanyol.

Kapal-kapal kecil seperti ini digunakan oleh Spanyol dan Portugis di eksplorasi mereka pada abad 15 dan 16.
Arsip Foto / Arsip Kean
Sumber: Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Bangsa Portugis dan Bangsa Spanyol di Nusantara tidak sedikit meninggalkan berbagai peninggalan yang sampai sekarang masih dapat kita temui dan dapat kita rasakan, baik berupa pengaruh kebudayaan, bangunan, maupun berbagai bahan makanan ataupun teknik pengolahannya. Tetapi, lebih banyak peninggalan dari Bangsa Portugis dari pada peninggalan Bangsa Spanyol, karena perjanjian Saragosa yang membagi daerah kekuasaan menjadi utara dan selatan yang mengakibatkan Bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan lebih memusatkan pada Filipina.

A. Portugis

1. Agama

Menurut Richard Z. Leirissa (1975: 7-14) Penginjilan yang pertama kali dilakukan oleh padri-padri[3] Portugis adalah pada tahun 1523. Pada waktu itu Antoni de Brino, Kepala orang-orang Portugis yang kedua di Ternate, membawa pula padri-padri Franciscaan ke sana ketika ia berangkat ke Ternate untuk menjabat kedudukan itu. Kemudian pada tahun 1534 Tristao de Atayade, yang menjadi Kepala orang-orang Portugis sejak tahun itu, membawa pula sejumlah padri. Mereka berhasil menjadikan seorang raja di Mindanao menjadi Kristen. Ini sangat penting karena sampai saat itu belum ada seorang raja yang dapat di-Kristenkan di Maluku Utara. Tetapi usaha ini kandas pada tahun 1536 karena terjadi suatu pemberontakan sehingga raja tersebut meninggal. Perkembangan agama Katolik baru menjadi pesat sejak Antoni Galvao menjadi Kepala (1536-40). Ia terkenal dalam sejarah Maluku oleh karena ia dapat mendamaikan Sultan Ternate dengan pihak-pihak padri Katolik. Tetapi sebenarnya perluasan agama Katolik itu terjadi di kepulauan Ambon-Lease, bukan di Maluku Utara sendiri. Di Ternate, Golvao berhasil membangun suatu Seminari untuk putra-putri daerah itu. Dari antara merekalah muncul pemuka-pemuka agama Katolik. Ketika Franciscus Xavier[4] tiba di Maluku, ia pertama-tama mengunjungi kepulauan Ambon-Lease yang pada waktu itu ada tujuh tempat[5] di pulau Ambon yang penduduknya memeluk agama Katolik berkat usaha padri-padri sebelumnya. Kemudian ia mengadakan perjalanan pula ke pantai selatan pulau Seram dan ke Nusalaut, serta Ternate. Kunjungan Xavier sangat berpengaruh terhadap politik kerajaan Ternate. Terjadi kemelut politik yang mengakibatkan Sultan Hairun harus mengakui kedudukannya sebagai vasal Portugis. Sultan Hairun kemudian mengutus Kaicili Letiato dengan suatu armada kora-kora untuk menggempur desa-desa Kristen di Maluku Tengah. Sejak tahun 1555 memang agama Katolik sangat maju di berbagai tempat di sini. Ini karena Xavier berhasil mengerahkan sejumlah padri ke daerah itu. Dan sejak saat itu agama Katolik berkembang pesat di Ambon dan kepulauan lainnya.

2. Kesenian

Balada-balada Keroncong romantis yang dinyanyikan dengan iringan gitar berasal dari kebudayaan Portugis (M.C. Ricklefs, 2008: 48). Keroncong pertama kali dikenalkan oleh para pelaut asal Portugis di abad ke-16. Keroncong itu merupakan sejenis musik yang dikenal dengan sebutan fado oleh bangsa Portugis (Andrie Yudhistira, 2010). Di Jakarta ada musik Keroncong yang dikenal dengan Keroncong Tugu. Jacobus Quicko, adalah seorang tokoh yang semasa hidupnya berperan memimpin rombongan Keroncong Tugu. Banyak hal yang masih dipertahankan dalam tradisi Keroncong Tugu, yaitu alat musik, perbendaharaan lagu (repertoar) dan kostum pemainnya. Alat musik yang digunakan saat ini masih seperti yang digunakan tiga abad yang lalu, yaitu keroncong, biola, ukulele, banyo, gitar, rebana, kempul dan cello.

Gambar 2: Alat Musik Keroncong.

Sumber: www.google.co.id

Tanjidor adalah permainan musik pukul yang populer di kalangan masyarakat Betawi. Bahasa aslinya adalah tangedor, dibaca tanjedor, merupakan bahasa Portugis. Tangedor berarti seseorang yang memainkan alat musik senar. Tanger berarti memainkan alat musik. Tradisi tanjidor berawal dari kebiasaan bangsa Portugis memerintahkan para budaknya menghibur mereka dengan permainan musik. Kejemuan dan kebosanan mereka menghadapi musim tropis tersembuhkan olah para budak yang memainkan musik dari daerah asal para budak itu dengan isntrumen musik Eropa. Mereka rata-rata menggunakan alat tiup, seperti klarinet, terompet, terompet Prancis, kornet. Ada juga tambur Turki. ''Pada awalnya dimainkan lagu-lagu Eropa karena mereka main pada waktu pesta dansa, polka, mars, lancier, dan lagu-lagu parade, tetapi lambat laun dimainkan juga lagu-lagu dan irama-irama yang khas Betawi,'' tulis Paramita R Abdurahman. Ketika para budak itu dimerdekakan, mereka menjadi kelomnpok-kelompok musik amatir yang menamakan diri tanjidor. Dalam perkembangannya, tanjidor juga memainkan keroncong, salah satu musik hasil pengaruh Portugis (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2008).

Gambar 3: Tanjidor.

Sumber: www.google.co.id.

3. Bangunan

Benteng Victoria yang merupakan benteng peninggalan Portugis yang dibangun di pusat kota Ambon pada tahun 1775 M.

Gambar 4: Benteng Victoria.

Sumber : www.google.co.id.

Ada juga benteng peninggalan Portugis yang bentuknya unik, Benteng Belgica, yaitu benteng yang dibangun oleh Portugis tapi kemudian diduduki Belanda pada abad ke 17. Benteng ini berada di atas perbukitan Tabaleku di sebelah barat daya Pulau Naira dan terletak pada ketinggian 30,01 meter dari permukaan laut. Benteng yang dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini memiliki suatu keunikan. Dibangun dengan gaya bangunan persegi lima yang berada di atas bukit, namun apabila dilihat dari semua penjuru niscaya hanya akan terlihat 4 buah sisi, tetapi kalau dilihat dari udara nampak seperti bintang persegi atau mirip dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki The Indonesian Pentagon. Benteng ini sebenarnya merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang awalnya berfungsi sebagai pusat pertahanan, namun pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang (Wta, 2008).

Gambar 5: Benteng Belgica.

Sumber: www.google.co.id.

Ada juga yaitu Benteng Otanaha. Benteng yang terletak di Kelurahan Dembe, Kota Gorontalo memiliki tiga bangunan yakni Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu yang dibangun sekitar 1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para nakhoda Portugal yang singgah di wilayah tersebut. Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan memiliki empat tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak hingga sampai ke lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan, dimana dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga, sehingga jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348.

Gambar 6: Benteng Otanaha.

Sumber: www.kompas.com.

Selain itu, di Lahayong, Solor, Flores Timur juga terdapat peninggalan Portugis berupa reruntuhan benteng, yang karena terletak di Lahayong kemudian diberi nama Benteng Lahayong.

http://bp1.blogger.com/_19j87EQervM/R9yliE-v-xI/AAAAAAAABfQ/FK441BRKSwM/s320/solor.1.jpg
Gambar 7: Reruntuhan benteng Portugis di Lohayong, Solor, Flores Timur.

Sumber: http://noerhayati.blogspot.com/2009/03/lohayong.html.

Di Malaka terdapat Kota A'Famosa merupakan pintu gerbang kubu di Malaka. Pintu gerbang ini merupakan peninggalan portugis dan sebuah kubu. Kubu ini dahulu mempunyai tembok yang panjang dan empat menara utama. Salah satunya ialah menara utama empat tingkat, manakala yang lain merupakan bilik simpanan senjata, kediaman kapten dan juga kuarters pegawai (Lia, 2010).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDUQQYonBegx-VQYH1JAcpuLMa3rjI8P0b4DWw9Z-e_DcpEVU95anlp_YPux9g27fduSFrfgQcQGZYm7EPlnzWqlQi12paEiYopV96HgKaZDrY00Go7znLzEJLVGzusMUJhFh2zZRr9YcB/s320/DSCN3592.JPG


Gambar 8: Pintu Gerbang Kubu di Malaka.

Sumber: http://tazzzlia.blogspot.com/2010/04/ke-mana-kali-ni.html.

Ada juga peninggalan berupa gereja, yaitu Gereja St. Paul merupakan sebuah gereja yang terletaknya di Bandar Hilir, Melaka. Ia dibina oleh Kapten Portugis yang bernama Duarte Coelho pada tahun 1521 dan dinamakan "Our Lady of The Hill". Gereja ini kemudiannya ditukar oleh pihak Belanda kepada tempat persemadian bangsawan dan di namakan gereja St. Paul. St. Francis Xavier telah dipelihara di dalam perkuburan terbuka pada tahun 1553 sebelum dibawa dengan kapal ke Goa, India (Lia, 2010).

Gambar 9: Gereja St. Paul.

Sumber: http://tazzzlia.blogspot.com/2010/04/ke-mana-kali-ni.html.

Dan masih banyak lagi bangunan-bangunan peninggalan Portugis yang sebagian besar terdapat di Maluku, antara lain adalah Benteng Tolucco yang dibangun oleh Francisco Serao (Portugis) pada tahun 1540, Benteng Kalamata atau Benteng Santa Lucia atau Benteng Kayu Merah yang dibangun oleh Pigafetta (Portugis) pada tahun 1540, Benteng Kastela yang dibangun oleh Antonio de Brito pada tahun 1521 dengan nama Nostra Senora del Rosario (Matahati, 2009).

Gambar 10: Benteng Tolucco.

Sumber 10: http://bentengmalut.blogspot.com/

Gambar 11: Benteng Kalamata.

Sumber: http://bentengmalut.blogspot.com/

Gambar 12: Benteng Kastela.

Sumber: http://bentengmalut.blogspot.com/

4. Nama dan Perkampungan

Di Ambon masih banyak ditemukan nama-nama keluarga yang berasal dari Portugis, seperti da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendoza, Rodrigues, da Silva, dan lain-lain (M.C. Ricklefs, 2008: 48).

Menurut Abang & None Jakarta Utara (2010), di Jakarta Utara tepatnya di kecamatan Koja, di sana terdapat sekumpulan masyarakat yang memiliki nilai-nilai kebudayaan tinggi mengenai Jakarta. Sebuah kampung yang dulu dianggap sebagai daerah terluar dari kota Batavia ini diperuntukkan bagi para Mardijkers oleh pemerintah Hindia Belanda yang telah dibebaskan dari tawanan peran. Mardijkers itu sendiri adalah sebutan bagi para portugis hitam yang dibebaskan dan dikumpulkan dalam satu kampung yaitu kampung tugu. Kampung ini dijadikan sebuah kampung kristen tertua di Indonesia bagian Barat, sebab masyarakat yang ada di daerah ini menganut Kristen protestan dan harus meninggalkan kepercayaan sebelumnya sebagai syarat supaya dapat di bebaskan dari tawanan perang. Untuk sebuah komunitas kristen masyarakat kampung tugu merupakan komunitas Kristen pertama di antara yang lainnya, hal ini menyebabkan komunitas Islam yang ada menyebut mereka sebagai komunitas Serani - yang diambil dari kata Nasrani - sehingga disana dibangunlah sebuah Gereja yang disebut Gereja Tugu sampai saat ini. Budaya Portugis masih sangat kental di kampung Tugu, hal ini dibuktikan dengan masih fasihnya masyrakat Kampung Tugu dalam mempergunakan bahasa Portugis dan keberadaan makam-makam Portugis di tempat itu.

Gambar 13: Gereja Tugu.

Sumber: www.google.co.id.

5. Bahasa/Kosakata

Sangat banyak kata-kata Indonesia yang berasal dari bahasa portugis, seperti pesta, sabun, sepatu, bendera, meja, Minggu, dan lain-lain (M.C. Ricklefs, 2008: 48). Menurut Aries (2010), kata "gereja" di Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis igreja. Puluhan gereja di Lisabon—orang Portugis menyebutnya Lisboa—sekarang juga disebut igreja. Misalnya sejumlah gereja terkenal di Lisabon, yaitu Igreja de Santa Engracia, Igreja de Sao Roque, atau Igreja de Santo Antonio de Lisboa. Menurut Gunung Agung (1970) dalam Aries (2010), bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, dalam bukunya Portuguese Influence in Indonesia, menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya, sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo. Kata lain, misalnya, bangku dari banco, beranda dari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo, meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato. Selain itu beberapa kata Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis cukup banyak. Seperti bangku (dari kata benco), jendela (janela), meja (mesa), sepatu (sapatu), gardu (garda), keju (aquijo), bendera (bandaera), dan topi (capyo) (Alwi Shahab, 2006). Dari berbagai sumber di atas tentang beberapa bahasa Portugis yang masih digunakan dalam bahasa Indonesia adalah pesta (festa), sabun (sabao), sepatu (sapato), bendera (bandaera), meja (mesa), Minggu (Domingo[6]), gereja (igreja), sisa (sisa), terigu (terigo), tempo (tempo), bangku (banco), beranda (varanda), boneka (boneca), kaldu (caldo), sekolah (escola), pigura (figura), jendela (janela), gardu (garda), keju (aquijo), topi (capyo), tanjidor (tangedor).

Dalam Wapedia (2010) daftar kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa Indonesia adalah algojo (algoz). arena (arena), armada (armada), aula (aula), akta (acta), bangku (banco), banjo (banjo), Belanda (holanda), beranda (varanda), bendera (bandeira), biola (viola), bola (bola), bolu (bolo), boneka (boneca), botol (botelha), dadu (dado), dansa (dança), dua (dua), flores (flores: bebungaan): nama pulau Flores, gancu (gancho), garpu (garfo), gereja (igreja), gudang (gudão), harpa (harpa), Inggris (Ingles), jendela (janela), kaldu (caldo), kampung (campo), kanon (kanon), karambol (carambola), kartu (cartão), kasur (colchão), kutang (alcotão), keju (queijo), kemeja (camisa), kereta (carreta), kursus (cursos), kontan (contas), kamar (camara), laguna (laguna), lambada (lambada) : sejenis tarian, legenda (legenda), lentera (lanterna), limau (limão), lemari (almario), lampion (lampião), mandor (mandador), marakas (maraca) (alat musik perkusi), marmot (marmota), martir (mártir), meja (mesa), mentega (manteiga), meski (mas que), Minggu (domingo): nama hari, juga dikenal sebagai Ahad, misa (missa) - ibadat Katolik, Natal ( Natal), nina (spt. dalam "nina bobo") (menina): anak perempuan kecil, nona (dona), nyonya (donha), ombak (onda), palsu (falso), paderi (padre): pendeta, peluru (pellouro, boleiro), pena (pena), peniti (alfinete), Perancis (francesa), pesiar (passear), pesero (parceiro), pesta (festa), pigura (figura), pita (fita), puisi (poesia), renda (renda), roda (roda), ronda (ronda), rosario (rosario), Sabtu (sábado), sabun (sabão), saku (saco), sekolah (escola), salto (salto), sepatu (sapato), silet (gilete), serdadu (soldado), sinyo (sinhô), tanjidor (tangedor), tapioka (tapioca), teledor, tembakau (tabaco), tenda (tenda), tempo (tempo), terigu (trigo), tinta (tinta), tolol (tolo), tukar (trocar)

6. Pangan dan Pertanian

Dari penjelajahan Bangsa Portugis, tidak hanya meninggalkan dampak negatif berupa monopoli dan kolonialisme, tetapi juga dampak positif yang salah satunya adalah dalam bidang pangan dan pertanian untuk daerah jajahannya.

Untuk memperkaya jenis-jenis pangan di daerah jajahannya, orang-orang Portugis juga membawa berbagai bibit dan tanaman yang didapat dari sebuah negeri yang berhasih ditaklukkan, baik di Asia maupun di Amerika, untuk ditanam di negeri lainnya yang belum memiliki komoditas itu. Kedatangan orang Portugis yang dipimpin Antonio Galvao juga membawa sejumlah tanaman, seperti anggur, tomat, avokad, dan ketela untuk ditanam di Maluku (1536-1539). Sumber pangan ini disebutkan meningkatkan kualitas diet orang Maluku yang sebelumnya dinilai buruk. Selain hal tersebut, peninggalan Portugis yang masih dapat kita jumpai dalam bidang pangan dan pertanian di Indonesia adalah cara berkebun (menanam bunga di pekarangan), makanan (serikaya, bika, ketela, pastel), cara pengawetan makanan (acar), dan alat-alat rumah tangga, seperti garpu. Sementara itu, kedatangan Bangsa Portugis diberbagai tempat membuat mereka mengenal berbagai sumber makanan yang selama ini tidak mereka kenal sebelumnya, salah satunya adalah durian. Pasukan Portugis juga mencatat sumber pangan, cara memasak, dan juga mendeskripsikan rasanya. Berbagai sumber pangan tersebut terutama rempah-rempah memengaruhi kuliner Bangsa Portugis hingga sekarang. Hal tersebut dilakukan karena Kerajaan Portugis memang meminta agar berbagai jenis tanaman dan hewan dikumpulkan dan dikirim ke negerinya ketika pasukan kembali ke Lisabon[7] (Agung Setyahadi, 2008).

Gambar 14: Kue Bika.

Sumber: www.google.co.id.

Dari penjelasan di atas apabila kita kaji, Portugis dalam penjelajahannya tidak hanya ingin mengeruk hasil rempah-rempah saja, tetapi juga menyebarkan komoditas-komoditas baru di daerah jajahan serta membawa komoditas-komoditas baru bagi bangsanya. Hal tersebut merupakan penyebaran budaya yang dilakukan oleh Bangsa Portugis.

B. Spanyol

Tidak banyak peninggalan Bangsa Spanyol di Indonesia, karena perjanjian Saragosa yang mengakibatkan wilayah daerah kekuasaan dibagi menjadi utara dan selatan dan Spanyol mendapatkan daerah utara yang akhirnya Spanyol harus meninggalkan Maluku dan lebih memusatkan pada Filipina.

Peninggalan Spanyol di Filipina yaitu Benteng San Pedro yang didirikan oleh pelaut asal Spanyol Miguel Lopez de Legazpi tahun 1565 (Andrian Wibisono, 2007) .

Gambar 15: Benteng San Pedro di Filipina.

Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2007/09/19/115202/831831/157/1/

Terdapat juga Salib Maggellan yang merupakan salib pertama yang ditancapkan Maggellan sebagai simbol dimulainya penyebaran agama Kristen Katolik di Filipina. Selain itu juga terdapat Gereja Santo Nino (Basilica Minore del Sto Nino) yang didirikan pelaut lain asal Spanyol Miguel Lopez de Legazpi tahun 1565. Di dalam gereja itu terdapat boneka kayu Santo Nino (bayi Yesus) yang merupakan hadiah dari Maggellan kepada istri Raja Humabonon, Ratu Juana yang menjadi pemeluk Katolik (Sinar Indonesia Baru, 2007).

Gambar 16: Salib Magellan.

Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2007/09/19/115202/831831/157/5/

Gambar 17: Gereja Santo Nino.

Sumber: www.google.co.id.

Namun dalam kehidupan sehari-hari masih ada kosakata bahasa Spanyol yang masih kita temui. Kosakata “Cinta”, sebetulnya perkataan ini dalam bahasa Spanyol berarti tali pita. Di Indonesia Timur, orang yang dipertunangkan harus mengucapkan kasih-sayangnya di bawah ikatan tali cinta tersebut maka selanjutnya cinta pun berubah menjadi padanan kasih (Asfi, 2007).

DARTAR RUJUKAN

Aries. 2010. Afonso de Albuquerque dan Jejak Portugis di Indonesia, (Online), (http://aries55history.blogspot.com, diakses tanggal 15 Oktober 2010).

Asfi. 2007. Asal-usul 10 Kata, (Online), (http://terasrumah.multiply.com/journal/item/193, diakses tanggal 15 Oktober 2010).

Elinda, dkk. 2007. Bangsa Portugis datang ke Indonesia, (Online), (http://arhistoria.blogspot.com/, diakses tanggal 10 Oktober 2010).

Ikatan Abang dan None Jakarta Utara. 2010. Kampung Tugu, (Online), (http://abnonjakut.blogspot.com/2010/10/kampung-tugu.html, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Jodhi (Ed.). 2009. Benteng Otanaha Peninggalan Portugis akan Direnovasi, (Online), (http://oase.kompas.com/read/2009/12/02/02451046/benteng.otanaha.peninggalan.portugis.akan.direnovasi, diakses ttanggal 16 Oktober 2010).

Lapian, Adrian B. 2008. Pelayaran dan Perdagangan Nusantara Abad Ke-16 dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2008. Mencari Peninggalan Portugis, (Online), (www.lipi.go.id, diakses tanggal 6 Oktober 2010).

Lia. 2010. (Online), (http://tazzzlia.blogspot.com/2010/04/ke-mana-kali-ni.html, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Mahdi, Nurhayati. 2009. Benteng Lahayong, (Online), (http://noerhayati.blogspot.com/2009/03/lohayong.html, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Matahati. 2009. Benteng Maluku Utara, (Online), (http://bentengmalut.blogspot.com/, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Setyahadi, Agung. 2008. Strategi Pangan Armada Portugis. Harian Kompas.

Shahab, Alwi. 2006. Keturunan Portugis di Tugu, (Online), (http://www.infoanda.com, diakses tanggal 15 Oktober 2010).

Sinar Indonesia Baru. 2007. Wisata Kota Tua di Cebu, Filipina Tak Sekadar Manila, (Online), (http://hariansib.com/?p=14361, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Wapedia. 2010. Daftar kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa Indonesia, (Online), (http://wapedia.mobi/id/Daftar_kata_serapan_dari_bahasa_Portugis_dalam_bahasa_Indonesia, diakses tanggal 15 Oktober 2010).

Wibisono, Andrian. 2007. Wisata Kota Tua Pulau Cebu, (Online), (http://foto.detik.com/readfoto/, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Wta. 2008. Benteng Belgica, The Indonesian Pentagon, (Online), (http://www.paketrupiah.com/artikel/benteng_belgica,_the_indonesian_pentagon.php, diakses tanggal 16 Oktober 2010).

Yudhistira, Andrie. 2010. Keroncong Tugu Peninggalan Penjajahan Portugis, (Online), (http://erabaru.net, diakses tanggal 6 Oktober 2010).

Z.Leirissa, Richard. 1975. Maluku Dalam Perjuangan Nasional Indonesia. Depok: Lembaga Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia.



[1] Giat semangat

[2] Ketika bangsa Melayu masih menembak dengan panah dan sumpit, bangsa Portugis datang membawa kanon yang dapat meledakkan bunyi gempita. Melihat orang Portugis menembak dengan membuat tanda salib sembari mengucapkan nama Maryam bunda Almaseh Isa maka selanjutnya senjata itu disebut meriam (Asfi, 2007).

[3] Pendeta

[4] Franciscus Xavier adalah orang yang berkebangsaan Spanyol yang bersama Santo Ignatius Loyola mendirikan Ordo Jesuit. Lihat Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, halaman 46.

[5] Tempat-tempat itu adalah Hatiwe, Tawiri, Nusaniwe, Kilang, Soya, Ema, dan Halong. Lihat Z.Leirissa, Richard. 1975. Maluku Dalam Perjuangan Nasional Indonesia, halaman 11.

[6] Dalam bahasa Portugis lama, Domingo, berarti Tuhan. Demi Domingo mereka pergi ke gereja untuk ibadah pada hari Ahad. Akhirnya Ahad berubah menjadi Minggu (Asfi, 2007).

[7] Ibu Kota Portugis

Kamis, 10 Februari 2011

PERKEMBANGAN TRADISI DAN KONSEP AGAMA BUDDHA DI KAWASAN ASIA SELATAN

PERKEMBANGAN TRADISI DAN KONSEP AGAMA BUDDHA DI KAWASAN ASIA SELATAN

Rendy Wahyu Satriyo Putro

Tradisi asli dalam agama Buddha, Theravada, terus berkembang bahkan sampai hari ini, tetapi sekitar Abad Pertama sebelum masehi, perpecahan mulai berkembang. Theravada memegang teguh pada ide-ide disiplin monastik[1], pencapaian ilmiah, dan kepatuhan yang ketat dengan Kitab Suci Sang Buddha, sementara yang lain melihat ini sebagai tidak fleksibel dan sulit bagi siapa pun selain seorang biarawan. Akibatnya, gerakan untuk membawa Buddhisme ke "orang biasa" mulai memperoleh popularitas. Gerakan ini akhirnya akan mengarah pada perkembangan Buddhisme Mahayana. Buddhisme Theravada terus dominan di Selatan India dan Ceylon (Sri Lanka) dan menyebar Selatan dan Timur melalui Semenanjung Indo-China sedangkan Buddhisme Mahayana berkembang dan menyebar ke Utara dan Timur (JS Brown, 2002).

Sementara berbagai sekte dan pengikut ajaran Buddha dapat bervariasi, inti nilai-nilai yang ditetapkan oleh Sang Buddha masih bersama oleh semua umat Buddha. Metode mereka mungkin berbeda, tujuan akhir dari pencerahan melalui disiplin pasien, meditasi, hidup benar, dan kasih sayang bagi kehidupan semua adalah benang merah yang berjalan dalam melalui semua pemikiran Buddha dan tradisi. Hal ini tepat untuk mengatakan bahwa Buddhisme Mahayana adalah perpanjangan atau kelanjutan dari Buddhisme Theravada, tetapi tanpa ada terlebih dahulu Theravada, tidak mungkin ada Mahayana.

A. Tradisi Agama Buddha di Kawasan Asia Selatan

1. Buddhisme Theravada

Theravada (Ajaran Para Sesepuh), merupakan tradisi Buddhisme yang menarik inspirasi ajarannya dari Tripitaka atau Kitab Pali, yang secara umum oleh para ahli disetujui berisi rekaman khotbah-khotbah pertama Sang Buddha। Selama beberapa abad, Theravada telah menjadi agama utama di Asia Tenggara (Thailand, Myanmar/ Burma, Kamboja, dan Laos) dan Sri Lanka. Saat ini jumlah pengikut Buddhisme Theravada telah melebihi 100 juta di seluruh dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, Theravada telah berhasil menanamkan akarnya di dunia Barat (John Bullitt, 2008: 1).

Gambar 1: Peta Penyebaran Aliran Buddhisme Theravada.

Sumber: www.wikipedia.com.

Menurut David N. Snyder (2008) menjelaskan bahwa doktrin utama dari Theravada adalah dari ajaran ditemukan di Pali awal Buddhisme . Ini termasuk Empat Kebenaran Mulia (menurut John T. Bullitt (2005) Empat Kebenaran Mulia adalah 1. Dukkha: penderitaan, ketidakpuasan, ketidakpuasan, stres; 2. Penyebab dukkha: penyebab ketidakpuasan ini adalah keinginan (tanha) untuk sensualitas, bagi negara-negara menjadi, dan negara-negara yang tidak menjadi[2]; 3. Berhentinya dukkha: pelepasan dari keinginan itu[3]; 4. Jalan latihan menuju penghentian dukkha: yang Mulia Delapan Jalan[4] dari pandangan benar , pikiran benar , ucapan benar , perbuatan benar , mata pencaharian benar , usaha benar , perhatian benar , dan konsentrasi benar[5]) dan Hambatan-hambatan untuk Pencerahan . Ada sedikit untuk tidak menggunakan ibadah di Theravada dan penekanannya pada pengembangan mental melalui meditasi. Seorang Buddha adalah seseorang yang penuh tercerahkan. Seseorang yang sepenuhnya tercerahkan, tetapi bukan Buddha waktu kita, disebut Arahat dalam Pali . Hambatan-hambatan untuk pencerahan tersebut yaitu:

1. Kepercayaan dalam kepribadian permanen, ego

2. Keraguan, skeptisisme ekstrim

3. Lampiran upacara, ritual, dan upacara

4. Lampiran keinginan rasa

5. Akan, marah

6. Keinginan untuk eksistensi di dunia berbentuk (surgawi alam)

7. Keinginan untuk eksistensi di dunia tak berbentuk (surgawi alam)

8. Kesombongan

9. Kegelisahan

10. Ketidaktahuan

Sebuah Anagami (non-kembali lagi) telah benar-benar membasmi rintangan pertama lima dan tidak pernah kembali ke bumi atau sistem dunia lain (planet, tata surya). Orang tersebut terlahir kembali ke alam surgawi dan mencapai pencerahan dari sana. Seorang Sakadagami (sekali kembali lagi) telah diberantas hambatan pertama tiga dan sangat lemah keempat dan kelima, keterikatan pada keinginan dan rasa sakit-akan. Orang seperti akan terlahir kembali baik manusia atau alam surgawi dan akan mencapai pencerahan di sana. Sebuah sottapanna (peserta) telah membasmi tiga rintangan pertama dan akan terlahir kembali tidak lebih dari tujuh kali lebih dan kelahiran kembali akan baik sebagai manusia atau dewa dalam surgawi dunia.

2. Buddhisme Mahayana

Yang Mulia Dalai Lama ke-XIV (2008: 29-30) menjelaskan bahwa pengikut Mahayana, atau disebut juga Kendaraan Besar, bertujuan mencapai tahapan tertinggi nirvana (Kebuddhaan). Mereka melakukannya tidak hanya demi diri mereka sendiri tapi juga demi semua makhluk. Termotivasi oleh inspirasi untuk mencapai Pencerahan dan atas dasar welas asih bagi semua makhluk, pengikut Mahayana melakukan jalan yang sama halnya seperti pengikut Hinayana, namun mereka melakukan latihan tambahan seperti enam kesempurnaan. Dengan metode ini, mereka mencoba untuk menjauhi devaluasi[6] dan kekotoran dari jejak karma lampau, hingga mencapai Kebuddhaan. Walaupun ke-5 jalan dari kedua tradisi utama ini sama, yaitu Persiapan, Penerapan, Penglihatan, Pelatihan, dan Pemenuhan, perbedaan kualitatifnya adalah bahwa Mahayana menekankan motivasi demi kebaikann semua makhluk. Dikatakan bahwa pengikut Hinayana yang telah mencapai nirvana pun akan melakukan metode yang sama untuk mencapai Kebuddhaan.

Gambar : Patung Buddha di Cina.

Sumber 2: http://sukrablog.blogspot.com/2008/04/pernyebaran-budha-mahayana-budha-2.html.

Zener Lie (2008) menjelaskan bahwa bila Anda sering menonton film, anda tentu tahu film kera sakti yaitu perjalanan ke Barat untuk mengambil kitab suci. Berarti di sini akan diceritakan perjalanan ke timur dalam penyebaran ajaran Buddha. Ajaran Buddha Mahayana disebut ajaran Buddha Tiongkok yang identik dengan Shaolin-nya. Dimana ajaran ini juga terdapat di negara Korea, Jepang dan Vietnam, dengan kitab sucinya Maha Tripitaka (Da Zang Jing) kanon sansekerta dan bahasa mandarin. Tiongkok yang identik dengan ajaran Mahayana bukan berarti tidak ada ajaran lainnya. Sekte[7] yang ada antara lain Hinayana dengan sekte Abhi Dharma Kosa (Ju She Zong), Satya Siddhi (Cheng Shi Zong) dan Mahayana dengan sekte Dharma Laksana (Fan Xian Zong), Tri-Sastra (Sam Lum Zung), Vinaya (Lu Zong), Avatamsaka (Hua Yan Zong), Tian Tai (Fa Hua Zong) dengan sub-sekte yang dikenal dari Jepang dengan nama Nichiren, Tantra (Zhe Yan Zong), Sukhavati (Jin Tu Zong) yang kita kenal dengan Buddha Amitabha (E Mi Tuo Fo), Bodhisatwa Avalokitesvara (Guan Yin Pu Sa) dan Maha Sthanaprapta (Da Shi Zhi Pu Sa), Zen (Chan Zong) dengan sub-sekte Lin Jin Zong, Wei Ji Zong, Cao Dong Zong, Yun Men Zong, Fa Yan Zong.

Buddhisme Mahayana kadang-kadang disebut Buddhisme Utara. Hal ini terutama diikuti oleh para biarawan dan biarawati, dan sebagian besar ditemukan di seluruh China, Jepang, Korea, Mongolia, Nepal, Rusia, Tibet, dan Vietnam.

Gambar 3: Peta Penyebaran Aliran Buddhisme Mahayana.

Sumber: www.wikipedia.com

Mahayana memutuskan bahwa Bodhisattva[8] adalah mandat bukan untuk kesempurnaan individu, tetapi untuk menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan ambil. Mahayana Buddha bersumpah tidak untuk memasuki Nirvana, meskipun mereka juga berusaha untuk mencapai pencerahan. Sebaliknya sumpah mereka adalah untuk kembali ke dunia penderitaan dan membantu semua orang lain dalam mencapai Nirvana pertama, sehingga casting peran umat Buddha sebagai pelindung kasih dan penyelamat (JS Brown, 2002).

Perbandingan Tradisi Theravada dan Mahayana:

Buddhisme Theravada

Buddhisme Mahayana

Berdedikasi dan memakan waktu Intense upaya yang diperlukan untuk mencapai pencerahan.

Pencerahan dicapai melalui kehidupan normal dengan berbagai tingkat keterlibatan spiritual.

Mencapai Nirvana adalah tujuan akhir dari Buddha Theravada.

Bersumpah untuk dilahirkan kembali dalam rangka untuk membantu semua makhluk hidup lainnya mencapai Nirvana pertama.

Berusaha untuk kebijaksanaan pertama.

Kasih sayang adalah kebajikan tertinggi.

Pusat mengenai meditasi, dan membutuhkan dedikasi pribadi besar seperti menjadi biarawan atau biarawati.

Mendorong praktik di dunia dan di kalangan masyarakat umum.

Diikuti sebagai pengajaran atau Filsafat.

Dilanjutkan dengan mengacu pada makhluk yang lebih tinggi, lebih mirip agama.

Terutama bergerak Selatan dan Barat meliputi Indocina dan Ceylon (Sri-Lanka).

Terutama pindah Utara dan Barat, yang meliputi Cina, Korea, Jepang, dan Tibet.

Awal bekerja ditulis dalam Pali (kamma misalnya, Dhamma).

Awal teks dalam bahasa Sansekerta (misalnya karma, dharma)

Menekankan aturan dan pendidikan

Menekankan intuisi dan praktek

Politik konservatif

Politik liberal

Tabel 1: Perbandingan Tradisi Theravada dan Mahayana.

Sumber: http://www.religioustolerance.org/budd_mah.htm

3. Hinayana

Yang Mulia Dalai Lama ke-XIV (2008: 29) menjelaskan bahwa untuk mencapai Nirvana, kita harus mengikuti jalan yang dianjurkan: jalan sejati atau Empat Kebenaran Mulia. Hinayana dan Mahayana merepresentasikan dua tradisi utama Buddhisme di mana kita dapat melihat jalan ini. Menurut Hinayana, atau yang disebut Kendaraan Kecil, para praktisi mencari nirvana demi dirinya sendiri, pikiran harus dilatih melakukan sebuah tekad yang cukup kuat untuk dapat lepas dari samsara[9]. Para praktisi harus melaksanakan etika keagamaan dan secara simultan melatih meditasi ketenagan dan insight[10] sehingga delusi[11] dan benih-benihnya dapat dilenyapkan, hingga pada akhirnya tidak dapat tumbuh lagi. Dengan demikian, kita mencapai nirvana. Jalan yang harus diikuti yaitu Jalan-jalan Persiapan, Penerapan, Penglihatan (Pemahaman), Pelatihan (Praktik), dan Pemenuhan (Hasil).

4. Tantrayana

Yang Mulia Dalai Lama ke-XIV (2008: 30) menjelaskan bahwa jalan Mahayana dan Hinayana adalah doktrin yang harus diikuti untuk membentuk dasar yang kuat sebelum berlatih Tantrayana, jalan metode para yogi[12]. Tantrayana terbagi ke dalam empat kelas dan memasukkan banyak hal yang tidak terhitung jumlahnya. Dengan istilah yang paling sederhana menurut sistem ini ialah karma negatif dianggap sebagai penyebab berbagai kesedihan yang kita alami. Karma negatif berasal dari delusi yang merupakan produk pikiran yang tidak terlatih. Oleh karena itu, pikiran perlu dilatih dan dikontrol melalui latihan-latihan yang dapat menghentikan aliran pikiran yang bersifat merusak dan berbahaya. Aliran ini dapat dihentikan atau berkeliaran, atau pula dapat mengarahkan pikiran menjadi tenang dengan konsentrasi. Seseorang juga dapat memfokuskan pikirannya pada objek eksternal guna menghentikan pikiran yang negatif. Untuk latihan ini, seseorang memerlukan kekuatan kontemplasi yang kuat. Gambar-gambar para dewa dianggap sebagai objek yang paling sesuai, dengan demikian menghasilkan berbagai gambaran dewa dalam tradisi Tantrayana. Dalam beberapa hal, kemajuan juga dicapai melalui keyakinan dan kataatan, akan tetapi secara umum kemajuan akan dicapai melaui kekuatan alasan. Dan jika seseorang mengikuti jalan transeden[13] dari Tantrayana, alasan itu sendiri akan menjadi aspirasi di dalam hati.

Tantrayana atau disebut juga Vajrayana sebenarnya merupakan subset dari Buddhisme Mahayana. Buddha Vajrayana sendiri sering mengklasifikasikan sekolah mereka sebagai tahap akhir dalam evolusi teori Buddhis India yang mereka menyebutkan sebagai: Hinayana, Mahayana, Vajrayana .

Penyebaran Tantrayana atau Vajrayana ini memiliki dua sub-sekolah utama, yaitu: 1. Tibet Buddhisme ditemukan di Bhutan, China Barat Daya, Mongolia, Nepal, India Utara, Rusia, Tibet; 2. Shingon Buddhisme ditemukan di Jepang (Konsultan Ontario pada Toleransi Agama, 2007).

5. Mantrayana dan Sahayana

Baik Mantrayana maupun Sahayana, kedua pasangan ini kurang diketahui. Sebagian berpendapat bahwa baik Mantrayana maupun Sahayana merupakan perkembangan kemudian. Mantrayana dan Sahayana lebih menggarisbawahi pada aspek-aspek psikologis yang efektif dari pada kemajuan batin. Dengan demikian, sifat-sifat dari pada petunjuk yang diberikan pada karakter perorangan serta berisi hal-hal yang mempunyai kaitan langsung dengan pengalaman. Tujuan dari Mantrayana adalah mencapai apa yang dituju oleh cabang-cabang atau aliran-aliran lain dalam agama Buddha, yaitu kemanunggalan dari manusia dan penerangan sempurna atau kematangan spiritual. Langkah yang harus dilakukan menurut pandangan Mantrayana adalah memperluas dan memajukan sikap baru yang diperoleh melalui meditasi dengan mengulang-ulang mantra. Sedangkan Sahayana secara harfiah dapat diartikan dilahirkan bersama-sama[14]. Sahayana bertujuan untuk membentuk pikiran yang luhur (Dharmakaya). Baik Mantrayana maupun Sahayana lebih cenderung pada aspek pelaksanaan dari ajaran Buddha yang berpuncak pada empat hal, yaitu:

1. Drsti, yaitu pandangan didasarkan pada pengalaman.

2. Bhavana, yaitu kemajuan batin yang diperoleh berdasarkan Mantrayana dan Sahayana.

3. Carya, yaitu hidup dan berbuat sebagaimana mestinya.

4. Phala, yaitu penunggalan dari kepribadian.

Kesemuanya itu disebut dengan berbagai macam istilah seperti penerapan sempurna, kematangan lahir batin atau kebuddhaan. Kehidupan agama Buddha di Tibet, negeri-negeri Himalaya, Cina dan Jepang telah menerima dengan mendalam praktek-praktek Mantrayana dan Sahayana (Tim Penyusun, 2003).

B. Konsep Agama Buddha

1. Sikap Tangan Buddha

Yazir Marzuki dan Toeti Heraty (1995) menjelaskan bahwa sikap kedua belah tangan Buddha, atau Mudra dalam bahasa Sanskerta, memiliki arti perlambang yang khas. Ada enam jenis yang bermakna sedalam-dalamnya. Mengenai patung-patung Buddha sebanyak lima ratus empat buah, dalam ikonografi yang mempelajari dan menafsirkan arca tetap belum tercapai kata sepakat. Penjelasan menganai kuil Buddha ini dicari pada persamaan yang ditemukan antara susunan arca Buddha di Borobudur dan pada candi-candi di Tibet. Keagungan irama tampak pada berbagai Mudra[15] yang ditempatkan berurutan, merupakan tatanan yang tiada taranya. pada empat lorong pertama dibatasi pagar-langkan dapat dibedakan empat jenis Mudra. Buddha yang ditempatkan menghadap ke timur menampakkan sikap tangan yang menyentuh Bumi sebagai saksi, dalam bahasa Sanskerta disebut Bumisparca-murda. Sisi selatan melambangkan Kedermawanan atau Wara-murda. Pada sisi barat terdapat isyarat Semadi atau Dhyana-murda, sedangkan di sisi utara tampil sikap Ketidakgentaran atau Abhaya-mudra. seluruh pagar-langkan kelima menggambarkan Puncak, Zenith. Ke segala penjuru angin tangan Buddha mengisyaratkan Penalaran atau Witarka-mudra. Mudra keenam tersembunyi di dalam stupa-stupa, menggambarkan Perputaran Roda Hukum atau Dharma (Dharmacakara-murda). Di Taman Rusa ketika Buddha menyampaikan Amanatnya yang pertama, konon sikap tangan inilah isyaratnya. Jika berbagai sikap tangan Buddha atau mudra dihubungkan dengan pembagian kosmografis alam semesta, yaitu unsur Nafsu, unsur Wujud, dan unsur Tak berwujud. Keenam sikap tangan Buddha, yaitu Bhumisparca-mudra, Wara-mudra, Dhyana-mudra, Abhaya-mudra, Witarka-mudra, dan Dharmacakara-mudra, membuka tabir rahasia yang tak terungkap pada wajah Buddha.

Gambar 4: Bumisparca-mudra, sikap tangan yang menyentuh Bumi sebagai Saksi terdapat di sisi timur.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

Gambar 5: Wara-mudra, sikap tangan ini melambangkan Kedermawanan, terdapat di sisi selatan.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

Gambar 6: Dhyana-mudra, semadi diisyaratkan dengan sikap tangan ini, terdapat di sisi barat.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

Gambar 7: Abhaya-mudra, dengan sikap tangan ini Buddha mengisyaratkan Ketidakgentaran, terdapat di sisi utara.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

Gambar 8: Witara-mudra, pada pagar-langkan kelima, terdapat arca Buddha dengan sikap tangan yang mengatakan Akal Budi, yang ditunjukkan pada keempat arah mata angin.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

Gambar 9: Dharmacakara-mudra, pemutaran Roda-Dharma yang digambarkan dengan sikap tangan ini melambangkan amanat pertama yang disampaikan Buddha.

Sumber: Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.

2. Konsep Makro Kosmos dan Mikro Kosmos dalam Agama Buddha

Vajrayana memandang alam semesta (kosmos) alam kaitan ajaran untuk mencapai pembebasan. Berangkat dari pandangan Mahayana tentang tiga tubuh Buddha, maka Buddha dalam bermanifestasi Dharmakaya[16][17] memiliki sifat (Buddhata) berada di mana-mana (omnipresence) dan karenanya bahwa Buddha adalah wadah atau badan kosmik yang memiliki elemen: tanah, air, api, angin, angkasa dari kesadaran (Tim Penyusun, 2003).

a. Konsep Makro Kosmos

Menurut Sumadio (1990: 189-190) dalam Nanang Saptono (20090 menjelaskan bahwa menurut doktrin Buddha, Gunung Meru sebagai pusat jagad raya, dikelilingi tujuh barisan pegunungan yang masing-masing dipisahkan tujuh samudra. Di luar jajaran pegunungan yang paling luar terletak lautan. Di lautan ini terdapat empat benua yang berada pada empat penjuru mata angin. Benua yang berada di sebelah selatan Gunung Meru adalah Jambudwipa tempat tinggal manusia. Konsep kosmogoni antara doktrin Brahma dan Buddha terdapat sedikit perbedaan, namun pada intinya sama yaitu bahwa alam semesta berpusat pada Meru. Pada kehidupan kenegaraan, konsep kosmogoni disimbolkan pada jumlah negara bawahan dan struktur birokrasi Dengan mengikuti pola sesuai dengan konsep kosmogoni, kerajaan dipandang sebagai implementasi jagad raya. Kota sebagai unsur kerajaan (negara) strukturnya juga menganut konsep kosmogoni.

b. Konsep Mikro Kosmos

Manusia dalam konsep Buddha adalah Mikro Kosmos tetapi berbeda dengan Atman Hindu yang menyatu dalam Brahman semesta, manusia dalam Buddha adalah Atman[18] yang berusaha melepaskan dirinya dari penjara tubuh menuju kepada An-Atman (ketiadaan Atman), dan ini dicapai melalui usaha meditasi menuju pencerahan (BP dan Saxman, 2008).

DAFTAR RUJUKAN

BP dan Saxman. 2008. Perbandingan Agama, (Online), (http://www.sarapanpagi.org/perbandingan-agama-vt2431.html, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Brown, JS. 2002. Buddhisme Mahayana (Alias Tradisi Utara), (Online), (http://www.religioustolerance.org/budd_mah.htm, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Bullitt, John T. 2005. Apakah Buddhisme Theravada?, (Online), (http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/bullitt/theravada.html, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

John Bullitt, Yang Mulia Master Chan Sheng-Yen, Yang Mulia Dalai Lama ke-XIV. Willy Yandi Wijaya (Ed). 2008. Tradisi Utama Buddhisme. Yogyakarta: Vidyasena Production.

Konsultan Ontario pada Toleransi Agama. 2007. Agama Budha Description of the Vajrayāna tradition Deskripsi tradisi Vajrayana , (Online), (http://www.religioustolerance.org/budvaj.htm, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Lie, Zener. 2008. Penyebaran Buddha Mahayana (Buddha 2), (Online), (http://sukrablog.blogspot.com/2008/04/pernyebaran-budha-mahayana-budha-2.html, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Nanang Saptono. 2009. Peranan Gunung bagi Masyarakat pada Masa Klasik Akhir di Kawasan Sumedang, (Online), (http://www.wacananusantara.org/2/106/Peranan%20Gunung%20bagi%20Masyarakat%20pada%20Masa%20Klasik%20Akhir%20di%20Kawasan%20Sumedang?mycustomsessionname=a634969c53cd3e09bfc2b12163866e5e, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Snyder, David N. 2008. Theravada,(Online), (http://www.theravadabuddhism.org/, diakses tanggal 20 Oktober 2010).

Tim Penyusun. 2003. Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Budha. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi.

Yazir Marzuki dan Toeti Heraty. 1995. Borobudur. Jakarta: Djambatan.



[1] Monastik adalah sebuah praktek keagamaan di mana seseorang menyangkali tujuan-tujuan duniawi dengan maksud agar dapat membaktikan hidupnya semata-mata bagi karya rohani.

[2] Samudaya.

[3] Nirodha.

[4] Pengertian Benar (samma ditthi), Pikiran Benar (samma sankappa), Ucapan Benar (samma vaca), Perbuatan Benar (kammanta samma), Penghidupan Benar (samma ajiva), Usaha Benar (vayama samma), Perhatian Benar (samma sati), Konsentrasi Benar (samma samadhi).

[5] Magga.

[6] Penurunan keimanan.

[7] Sekte umumnya adalah sebuah kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar, biasanya karena pertikaian tentang masalah-masalah doktriner.

[8] Makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk semesta.

[9] Samsara adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti.

[10] Pengertian yang mendalam.

[11] Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti.

[12] Yogi digunakan untuk menggambarkan seorang bhikkhu atau pelaku agama yang mengabdikan hidupnya pada kegiatan meditasi.

[13] Transenden yaitu sesuatu yang di luar jangkauan manusia.

[14] Satu dan tidak bisa dipecah-pecah atau dipisah-pisah.

[15] Mudra adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalam Hinduisme dan Buddhisme.

[16] Dharmakaya dapat dianggap realitas pikiran yang paling luhur atau paling benar di alam semesta.

[17] Bermanifestasi tubuh fisik Sang Buddha.

[18] Atman adalah jiwa atau roh yang menghidupkan manusia.